Hari Jum’at lalu, saya ikut acara Touring Photography ke Kamojang dan Papandayan bersama Sekolah Foto Tjap Budhi Ipoeng. Ini adalah acara touring photography pertama yang saya ikuti. Beberapa waktu yang lalu SFTBI (Sekolah Foto Tjap Budhi Ipoeng) juga sering melakukan kegiatan ini, tetapi saya tidak bisa ikut pada waktu itu.
Perjalanan tiga hari dua malam ini sangat berkesan bagi saya. Yu kita ikuti jurnalnya.
Hari Pertama, Jum’at 22-8-2008
Kami berkumpul di SFTBI pada pukul 8:30. Setelah isi absensi dan sedikit menunggu rekan yang agak terlambat, pukul 10:30 kami berangkat menuju Garut. Perjalanan menggunakan 4 buah Land Rover Defender Seri I dan II dan satu Toyota Rush. Di Nagreg, kami berhenti di Mesjid Uswatun Hassanah untuk sholat Jum’at dulu. Selesai itu, kami berangkat menuju Garut.
Sebelum sampai ke Kamojang, kami dijamu makan siang di Hotel Kampung Sampireun. Kami lakukan pula pengambilan beberapa foto di Kampung Sampireun. Puput, model dari Bandung menjadi serbuan bidikan kami :D
Kira-kira pukul 14:00, kami bergerak kembali menuju Kawah Kamojang. Tiba di sana sekira pukul 15:00. Langsung memasang tenda-tenda. Kebetulan untuk logistik kami dibantu oleh EO Regis dari Garut yang sering menangani acara-acara outbound. Hidangan jagung rebus, bandrek dan juga ubi rebus tersedia berlimpah. Saya sendiri langsung testing akses internet, tetapi sayang sinyalnya begitu lemah. Jadi saya tidak bisa menyalurkan internet addict saya :( Wah, terpikir nih untuk beli GSM/3G repeater atau booster.
Jam 16:30 harusnya kami bisa memotret sunset dengan background power plant geothermal Kamojang. Sayangnya, karena ketidakdisiplinan kami, kami terlambat mengabadikan moment tersebut. Akhirnya kami hanya mendapat pelajaran arsitektur fotografi.
Pukul 19:00 kami berada kembali di basecamp. Makan malam tersedia. Selesai makan malam, kami menikmati hangatnya api unggun. Saya kembali test koneksi internet di tenda saya, bisa konek tetapi akses mandek.
Saya pun akhirnya tidur di tenda, berselimutkan sleeping bag yang kekecilan. Hayah.. lain kali kudu beli sendiri yang lebih besar nih sleeping bag nya. :D
Hari Kedua, Sabtu 23-08-2008
Pagi dini hari pukul 03:00, perut saya mules, panggilan alam. :( Halah mana tempat buang air agak jauh di bawah dan gelap tanpa penerangan sama sekali (ya iya laaah, namanya juga di hutan). Terdesak oleh kebutuhan buang hajat, dengan bantuan senter, hilang sudah rasa ketakutan akan adanya ular, harimau (emang masih ada ya? hehehe..), dan binatang liar sirna sudah. Termasuk takut akan hantu si jurig nyiliwuri, hahahah :D Untungnya, bulan setengah purnama, menemani saya sepanjang jalan. Setelah itu saya pun tidak tidur lagi sampai pagi.
Pukul 06:00, saya pun mandi pagi. Berendam di air hangat di kolam alam. Wah.. untung tidak ada yang bawa kamera mengabadikan saya lagi mandi :D Kalau tidak.. wah bisa heboh nih dunia persilatan. :D Rasanya saya seperti menemukan dunia yang hilang dari masa kecil saya. Dulu saya sering mandi di kolam di kampung.
Pukul 7:00 kami pun sarapan pagi, nasi kuning yang sudah disediakan oleh EO. Jam 9:00 kami pun jalan sepanjang jalur tracking mengelilingi kawasan Kawah Kamojang. Di beberapa lokasi kami berhenti untuk melakukan pemotretan. Saya, termasuk orang yang paling sering berhenti mengambil objek macro hehehe.. Bentar-bentar motret bunga, serangga, dll. Sampai-sampai teman-teman yang lain pada teriak, “Ini ada model cantik kok sibuk motret laba-laba?” :D
Kami juga melewati kawah yang sangat legendaris, yaitu Kawah Kereta Api. Mengapa disebut Kawah Kereta Api? Karena bunyinya yang mirip desis lokomotif uap. Jalur tracking yang naik turun, cukup membuat badan ini berkeringat deras. Apalagi saya, selain harus menggendong backpack berisi lensa-lensa dan kamera, juga harus membawa karung goni seberat hampir 90 kg (alias badan saya sendiri). :D
Sejam setengah kami tracking dan hunting, kami pun tiba kembali di base camp. Langsung kami bongkar tenda-tenda kami, bersiap menuju Gunung Papandayan. Jam 11:00, kami berangkat menuju Gunung Papandayan. Jam 13:00 kami mampir dulu di Sari Papandayan untuk makan siang. Nikmaaat sekali makan siang di saung-saung yang berada di tengah sawah dengan hidangan nasi timbel, ayam goreng, dan ikan asin jambal. Hmm.. maknyuss…
Kira-kira pukul 15:00, kami pun tiba di Gunung Papandayan. Segera kami pasang tenda-tenda di areal camping ground yang berada tidak jauh dari areal parkir. Bau gas belerang yang cukup menyengat tidak menyurutkan semangat kami. Karena cuaca sangat dingin dan tidak tersedia air panas alami, saya pun tidak mandi :D
Pukul 19:00 kami pun barbeque party dengan menu utama, ayam lagiiii. :D Tapi menarik sekali, karena semua masakan langsung dimasak di tempat. EO Regis telah mendatangkan koki khusus untuk memasak jamuan tersebut. Yeess..!! Terima kasih Kang Franz. Api unggun pun dinyalakan. Saya tidak lama kemudian segera masuk tenda, karena jam 3 pagi kita sudah harus siap menuju puncak Gunung Papandayan.
Tetapi karena cuaca sangat dingin serta bau belerang, saya tidak dapat langsung tidur nyenyak. Saya sungguh sangat bersyukur, selama ini masih bisa tidur dengan enak dan hangat di rumah. Saya membayangkan para tunawisma yang tidur di emperan toko atau di bawah kolong jembatan. Alhamdulillah Ya Allah.. atas semua nikmat yang telah Engkau berikan. Akhirnya, rasa kantuk pun datang, dingin dan bau belerang pun sudah tidak dipedulikan lagi.
Hari ketiga, Minggu 24-08-2008
Pukul 03:00 pagi kami pun sudah dibangunkan. Segera saya mempersiapkan backpack Lowepro berisi kamera. Tidak lupa mempersiapkan tripod dan air minum. Antangin dan beberapa suplemen pun saya bawa serta.
Pukul 03:30 kami pun menuju puncak Gunung Papandayan. Saya yang tidak membawa senter agak kebingunan ketika melangkah mendaki gunung. Tetapi, sungguh sangat beruntung, bulan menyinari sepanjang perjalana tersebut.
Sungguh sangat berat perjalanan menuju puncak gunung. Apalagi kondisi saya yang sudah hampir setengah tahun ini tidak pernah berolahraga. Ditambah bau belerang yang menyengat, kondisi udara yang agak miskin oksigen karena kami berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Dua kali saya harus berhenti istirahat, menarik nafas dan minum sedikit air. Akhirnya, setelah menempuh perjalan hampir 1 jam, kami pun tiba di puncak Gunung Papandayan. Selama berjalan, beberapa kali kami harus melewati kepulan asap kawah yang keluar dari perut bumi.
Saya pun tergeletak kelelahan. Ya Tuhaaan.. cape benerrr. Pukul 05:30, untuk pertama kali dalam hidup saya, saya sholat shubuh di atas ketinggian 2622 meter di atas permukaan laut. Sungguh saya mengalami pengalaman spiritual yang sangat luar biasa!
Tak lama berselang, kami bersiap-siap untuk menyambut sang raja siang terbit. Jejeran tripod pun sudah dipasang oleh semua peserta touring. Dan… subhanallah.. betapa indahnya alam ini, betapa indahnya Dia Sang Pencipta. Detik-detik semburat matahari terbit tidak saya lewatkan sedikit pun. Sangat saya nikmati dan syukuri kalau dalam hidup saya ini masih bisa menikmati indahnya alam semesta ini.
Sambil pemotretan berlangsung, hidangan nasi goreng panas pun tersedia. Kami sangat menikmati suasana kebersamaan ini. Sesi pemotretan landscape berlanjut ke sesi pemotretan model. Tetapi pada praktiknya, masing-masing memiliki kesibukan sendiri dengan objek foto masing-masing :D .
Pukul 09:00 kami pun turun kembali ke base camp di parkiran Papandayan. Perjuangan menuruni bukit terjal pun tidak bisa dianggap enteng. Menahan beban hampir 100kg buat saya bukan pekerjaan mudah :D . Sampai di base camp, setelah tubuh dingin, saya pun mandi. Luar biasa.. itu air dingin sekali serasa disiram air es. Brrr… tapi badan betul-betul segar.
Pukul 11:00 kami pun beranjak dari Gunung Papandayan. Tujuan selanjutnya adalah kaki Gunung Guntur. Pemotretan dengan tema adventure pun kami jalani di tempat tersebut. Terik panas matahari yang sangat menyengat tidak membuat kami surut semangat untuk belajar mengambil sudut-sudut terbaik dari objek foto kami.
Setengah jam kemudian kami menuruni Gunung Guntur. Tidak lupa, kami mampir di Tarogong untuk beli oleh-oleh dan juga makan siang. Pukul 15:00 kami pun tiba di Bandung. Luar biasa.. kaki pada pegel, muka jadi gelap. Tapi.. saya mendapatkan pelajaran sangat berharga dari acara touring ini.