Pengalaman photo outdoor touring ke Kamojang dan Gunung Papandayan, menyisakan satu pikiran dalam diri saya, seandainya saya bisa bawa 4 kamera dengan lensa yang berbeda-beda, misalnya satu dipasang fish-eye, satu lagi wide, satu lagi tele (sekalian buat motret model), dan satu lagi macro. Tetapi, kebayang sudah, tidak mungkin lagi semuanya bisa dibawa sendiri berjalan, karena berat. Apalagi kalau pilihan lensanya sudah mulai fixed f/2,8 misalnya, wah udah pada segede termos air tuh lensanya, beratnya auzubillah. Dengan membawa banyak kamera dengan lensa-lensa yang berbeda, sangat memudahkan kecepatan dalam mengambil moment tanpa terganggu waktu untuk ganti-ganti lensa. Selain itu, gonta-ganti lensa di alam terbuka beresiko masuknya debu ke dalam sensor atau body kamera.
Pengalaman photo outdoor touring ke Kamojang dan Gunung Papandayan, menyisakan satu pikiran dalam diri saya, seandainya saya bisa bawa 4 kamera dengan lensa yang berbeda-beda, misalnya satu dipasang fish-eye, satu lagi wide, satu lagi tele (sekalian buat motret model), dan satu lagi macro. Tetapi, kebayang sudah, tidak mungkin lagi semuanya bisa dibawa sendiri berjalan, karena berat. Apalagi kalau pilihan lensanya sudah mulai fixed f/2,8 misalnya, wah udah pada segede termos air tuh lensanya, beratnya auzubillah. Dengan membawa banyak kamera dengan lensa-lensa yang berbeda, sangat memudahkan kecepatan dalam mengambil moment tanpa terganggu waktu untuk ganti-ganti lensa. Selain itu, gonta-ganti lensa di alam terbuka beresiko masuknya debu ke dalam sensor atau body kamera.
Kamera Olympus E-510 saya sudah termasuk dalam kategori kecil, baik itu body dan lensanya. Standar 4/3 system memiliki standar yang berbeda dengan sistem lainnya (35mm). Yaitu dia memilik sensor crop factor 2x. Ukuran sensornya: 18×13.5 mm (22.5 mm diagonal). Dengan demikian lensa 4/3 system 100mm misalnya sama dengan 200mm lensa biasa. Keuntungannya, seperti kemarin saya membawa lensa 40-150mm berarti saya membawa lensa setara 80-300mm. Padahal fisik lensa jauh lebih kecil dibandingkan lensa setara.
Tetapi kalau lihat lensa Zuiko 35-100mm f/2, bujubuneeng gede dan berat banget. Pasti mikir deh bawa-bawa lensa segede gaban ke puncak gunung. Bisa gempor. Apalagi kalau lihat lensa Zuiko 95-250mm f/2,8 hood-nya hampir sama dengan kaleng biskuit Roma. :D Beratnya juga minta ampun dah.
Four Third System sejak awal memposisikan diri berbeda dengan produsen kamera lainnya yang selama ini selalu mengacu kepada film 35mm. Sehingga dikenal adanya sensor FF (full frame). Hampir semua kamera jenis atas dari sistem 35mm memiliki sensor dengan diameter sama dengan film, yaitu 35mm. Sedangkan 4/3 (Four Third) System sejak awal didesain khusus buat digital. Jadi baik sensor, lensa, body, semua didesain dari awal khusus untuk digital. 4/3 system tidak memikirkan back compatibility supaya lensa-lensa lama yang dimiliki oleh para fotografer analog supaya bisa dipakai lagi. Sedangkan, produsen kamera lainnya, awalnya memikirkan supaya lensa-lensa analog yang lama bisa digunakan di sistem DSLR digital, dengan harapan, mempermudah fotografer untuk berpindah dari SLR analog ke DSLR tanpa harus investasi lensa lagi.
Nah, berbekal pengalaman touring kemarin, terpikir oleh saya, sepertinya enak juga punya kamera DSLR yang compact. Ingin sih punya kamera macam Leica M8, yang lumayan tipis, tapi harganya booo, belum lagi rangefinder camera penggunaanya juga agak berbeda dari kamera SLR. Nah rupanya, Olympus dan Panasonic jauh-jauh hari sudah memikirkan soal Beberapa waktu yang lalu, mereka telah mengumumkan format baru yang masih sedarah dengan Four Third System, yaitu Micro Four Third System.
Berikut adalah sedikit penjelasan dari Micro 4/3 System tersebut:
- Jarak sensor ke lensa menjadi lebih pendek kira-kira 50% dari 4/3 System. Akibatnya, ukuran body kamera menjadi lebih tipis.
- Tidak memiliki cermin
- Jarak sensor ke lensa menjadi lebih pendek
Karena tidak memiliki cermin, maka mungkin tidak lagi disebut DSLR (Single Reflex
- Diameter mounting lensa lebih kecil 6mm.
- Jumlah pin elektronik lensa dan body bertambah dari 9 pin menjadi 11 pin
- Lensa Four Third bisa dipergunakan di Micro Four Third dengan menggunakan adaptor
- Disiapkan untuk mendukung format 4:3, 3:2 dan 16:9
- Disiapkan untuk bisa recording video
- Isunya nantinya sensornya berbentuk bujur sangkar, sehingga untuk format foto vertikal, tidak perlu lagi mengubah orientasi kamera dari horisontal menjadi vertikal (ini isu looh..)
Referensi:
1. http://www.dpreview.com/news/0808/08080501microfourthirds.asp
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Micro_Four_Thirds_System
3. http://www.4-3system.com/modules/news/article.php?storyid=136
4. http://www.four-thirds.org/en/microft/whitepaper.html
Dicopypaste dari: http://eepinside.com/?p=1219