Safety first rasanya bukan hanya slogan milik kontraktor, atau pengendara sepeda motor, tapi juga urusan fotografer. Kenapa? Izinkan saya berbagi cerita.
Suatu kali saya, dan seorang teman wanita, pergi ke jembatan penyeberangan di depan pusat perbelanjaan di Tebet, Jakarta. Anda tahu tempatnya? Nah, rencananya, kami ingin merekam cahaya kendaraan yang melintas di bawah jembatan. Sekadar iseng. Maklum masih belajar. Sampai di atas, ternyata teman wanita saya lebih tertarik kepada lampu temaram yang mewarnai lantai jembatan. Saya? Tentu tetap setia dengan tujuan awal.
Saya mulai membuka tas, mengeluarkan tripot lalu menyiapkannya, menggabungkannya dengan kamera, dan bersiap-siap memotret. Beberapa orang melintas di belakang saya ketika saya melakukan persiapan itu. Tapi… kok ada pria yang sama yang saya lihat terus di belakang saya? Sudah empat kali, kalau saya tidak salah hitung. Karena was-was, mata saya jadi tidak tenang. Apalagi akhirnya pria itu berhenti di ujung jembatan, tidak turun, atau mungkin pura-pura turun, seperti sebelumnya!
Yah… memang, bisa saja ternyata pria itu juga penggemar fotografi yang sebenarnya ingin bergabung hanya malu-malu. Tapi saya berpikir risiko terburuk yang mungkin terjadi. Alih-alih berhasil merekam gambar yang saya inginkan, saya malah kehilangan peralatan tempur dan membawa pulang bonus tubuh yang cidera.
Safety first! Saya langsung merapikan alat-alat sekenanya, dengan berusaha tidak terlihat panik, dan segera mengajak teman wanita saya pergi. Waduh, pria di ujung itu juga ikut bergerak. Untungnya, kami bisa lebih cepat, atau… pria itu yang tidak berniat mengejar kami ya? Entahlah. Yang jelas, kami berhasil keluar dari rasa was-was tadi.
Nah, apa hikmah yang saya simpulkan? Pertama, lain kali jika ingin memotret malam hari di tempat yang sepertinya lumayan sepi, saya harus membawa paling tidak seorang, pria, yang bisa menjaga punggung saya tetap aman. Kedua, sebelum mengeluarkan peralatan, saya harus memastikan kondisi di sekitar aman dari ancaman. Ketiga, hm… apa saya juga perlu ikut asuransi ya?
Mengutip kata pepatah, saya harus sedia payung sebelum hujan, supaya saya tidak perlu menyalahkan hujan turun, jika saya kebasahan karena tidak membawa payung yang tepat. Bukan bermaksud menggurui, tapi seperti kata Bang Napi, “Waspadalah, waspadalah!